11. Kenapa Loker Masih Minta Pengalaman? Kan Semua Bisa Dipelajari?

Bisa belajar cepat dan punya kemauan kuat, tapi ditolak karena kurang pengalaman? Mungkin ini alasannya. Kalian pasti pernah menemukan loker yang men...

Bisa belajar cepat dan punya kemauan kuat, tapi ditolak karena kurang pengalaman? Mungkin ini alasannya.

Kalian pasti pernah menemukan loker yang menulis "pengalaman X tahun". Kalau di IT contohnya: PHP 14 tahun.

Biasanya, yang kontra dengan kriteria ini beralasan:

  • “Kan sekarang semua bisa dipelajari dengan cepat?”
  • “Saya punya kemauan belajar yang kuat!”
    Apalagi sekarang ada AI.

Iya, benar. Sebagai jobseeker, saya pernah ada di fase berpikir begitu.

Tapi… sedikit yang benar-benar mau paham: pengalaman tidak bisa digantikan oleh kecepatan belajar.

Iya, AI bisa membantumu belajar.
Tapi AI enggak bisa mengganti jam terbangmu.

Contoh paling nyata ya dari istri saya sendiri. Dua tahun terakhir ini dia belajar video editing—dari nol. Sama sekali enggak punya pengalaman sebelumnya.

Suatu hari dia dapat beasiswa Digitalent Kominfo - Video Editing. Belajarnya cuma sebulan, diajar Mas Edi Kurniawan, video editor senior dari HelloMotion Academy. Berat? Iya. Berdarah-darah? Banget. Tapi lulus juga. Ujian akhirnya: mengedit scene sinetron dan membuat video iklan minuman energi.

Tapi kami merasa, lulus kelas online tidak cukup. Harus punya ruang aktualisasi. Maka istri membuat channel YouTube. Kontennya dari aktivitas kami sekeluarga. Toh kami tinggal di Malang, banyak wisata, bisa lah mulai dari itu. Hitung-hitung dokumentasi keluarga.

Maka di-publish-lah video pertamanya dua tahun lalu, yang hasilnya mungkin masih terlihat "burik".

Tapi pengalaman membuatnya tumbuh berkembang. Saya yang biasanya merekam video, istri yang mengedit. Pakai HP seadanya, dengan shot yang amburadul dan teknik membabi buta, ternyata semua kekurangan itu, eh, kini bisa, lho, “diperbaiki” dengan editannya. Skill pengalaman dua tahun terakhir di channel YouTube miliknya ternyata works! Video amburadul yang saya rekam, ibarat bahan makanan mentah sisa, jelek, dan seadanya, ternyata bisa di-edit jadi makanan siap saji yang enak olehnya.

Yup, pengalaman mengasah skill-nya.
Karena apa? Jam terbang, salah satunya.

Analogi yang sama juga berlaku di dunia IT, dan mungkin juga di dunia profesimu.

Yup, saya yakin kamu bisa saja dikasih waktu seminggu buat mempelajari tech stack baru. Bahkan, berkat AI, banyak hal sekarang jadi possible banget.

Tapi kualitas dari jam terbang—pengalaman itu—enggak bisa bohong.

Tapi ingat, pengalaman yang bernilai hanya datang kalau kamu punya growth mindset. Dua tahun bisa jadi cuma “itu-itu saja” kalau kamunya enggak mau berkembang.

Malang, 23 Mei 2025
#100harinulis #100harimenulis