12. Tak Ada Belajar Yang Sia-Sia

Anda mungkin pernah, setidaknya sekali semasa kuliah Anda, merasa skeptis terhadap apa yang sedang Anda pelajari: "Memang ilmu ini bakal terpakai di...

Anda mungkin pernah, setidaknya sekali semasa kuliah Anda, merasa skeptis terhadap apa yang sedang Anda pelajari:
"Memang ilmu ini bakal terpakai di dunia kerja?"

Saya juga pernah begitu.
Sering, bahkan.

Sampai akhirnya, setelah lulus dan masuk ke dunia kerja, saya menyadari satu hal: ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah—terutama di jenjang S1—sering kali terasa terlalu umum dibandingkan dengan tuntutan dunia kerja yang lebih spesifik.

Saya sendiri, yang alhamdulillah diberi kesempatan kuliah di S1 Ilmu Komputer 20 tahun silam, juga sering berpikir, "Ilmu A, B, C ini kayaknya enggak perlu, deh." Bahkan lebih spesifik lagi, ada subtopik dari mata kuliah tertentu yang membuat saya bertanya-tanya, "Untuk apa belajar ginian?"

Saya pernah berpikir seperti itu.
Dan mungkin Anda juga.

Tapi Allah sering kali punya cara-Nya sendiri untuk menjawab keraguan kita.

Dua tahun lalu, atasan saya meminta fitur yang bisa dibilang "ora umum". Saat itu, seingat saya, atasan saya sendiri masih belum punya gambaran jelas bagaimana cara mengerjakannya. Begitu pula dengan rekan-rekan engineer saya.

Sampai entah bagaimana, saya tiba-tiba teringat sebuah subtopik dari mata kuliah semester tiga—ilmu yang saya pelajari 18 tahun lalu! Seumur-umur, selama 18 tahun berkarier di dunia pendidikan dan engineering, saya sama sekali belum pernah menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari.
Karena teringat itu, saya coba mengusulkan solusi tersebut ke tim. Meskipun beberapa rekan engineer tampaknya belum terlalu paham, karena solusi ini worth to be tried dan tidak ada alternatif lain, akhirnya kami putuskan untuk mengimplementasikannya.

Singkat cerita, alhamdulillah, pendekatan tersebut berhasil digunakan dalam sistem yang kami kembangkan.

Sampai sekarang, setiap kali melihat kembali kode dua tahun silam itu, saya sering senyum-senyum sendiri.

Butuh 18 tahun bagi saya hanya untuk akhirnya bertemu dengan masalah yang solusinya dulu pernah saya remehkan.

Dari sini saya belajar:

Apa yang kita pelajari saat sekolah atau kuliah memang belum tentu akan langsung terpakai dalam pekerjaan. Tapi ilmu-ilmu itu MEMPERSIAPKAN kita untuk menghadapi masalah yang suatu saat ternyata bisa diselesaikan dengan ilmu tersebut.

Bahkan lebih ekstrem lagi...

Saya teringat seorang sahabat yang pernah mengambil hikmah dari kenapa anak IT harus belajar kalkulus—limit, turunan, dan integral rangkap dua. Saat itu, semua ilmu itu terasa tak ada gunanya bagi kami. Sampai sekarang pun saya belum pernah benar-benar menggunakannya di dunia nyata.
Tapi sahabat saya berkata, "Mungkin ilmu itu tidak akan pernah terpakai di dunia kerja, tapi setidaknya, kita telah belajar menghadapi SULITNYA BELAJAR."

Menghadapi Sulitnya Belajar.

Tiga kata yang rasanya semakin langka akhir-akhir ini.

Malang, 5 Ramadan 1446 H
#100hariNulis #100hariMenulis

P.S. Bagi anak IT yang penasaran, pendekatan teknis yang kami gunakan adalah polimorfisme.