13. Berbagi Percik Api

Pagi tadi saya membaca status dari Mbak Putri Rokhmayati, seorang praktisi IT tunanetra yang memberikan *mentoring* ke rekan tunanetra lain yang ingin...

Pagi tadi saya membaca status dari Mbak Putri Rokhmayati, seorang praktisi IT tunanetra yang memberikan mentoring ke rekan tunanetra lain yang ingin belajar IT juga. Darinya—saya diingatkan—ada yang lebih penting dari 'sekadar' berbagi ilmu, yaitu: MENUMBUHKAN HARAPAN.

Ini langsung mengingatkan saya ke tahun 2017, saat masih aktif mengajar IT.

Waktu itu, sahabat saya Adib berpesan serupa tentang profesi saya:
"Tugas UTAMA guru itu BUKAN mengajar, tapi meMOTIVASI anak didik."

Karena anak didik yang termotivasi akan terus belajar.
Meski tak disuruh.
Meski tak di kelas kita lagi.
Meski tak mengharap nilai dari kita lagi.

Maka, selama enam tahun saya mengajar, saya upayakan beragam cara “mencuci otak” para mahasiswa di kelas saya.

FYI, saya mengajar di STIKMA, kampus mungil penuh berkah di Malang. Mahasiswanya dari beragam latar belakang: sosial, daerah, pendidikan, dan juga penghasilan. Banyak dari mereka—meski jurusan IT—belum punya komputer atau laptop meski sudah semester lima.

Orang Malang sendiri mungkin tak tahu ada kampus ini.
Mungkin saking tak terkenalnya, seorang kolega pernah mewanti-wanti, “Mohon maklum kalau anak-anak di sini TIDAK PINTAR.”

Tapi saya tidak suka label seperti itu.
Saya lihat ada potensi, tapi tidak tergarap maksimal.
Maka selain mengajar, saya putuskan jadi provokator!

Pelan-pelan saya tumbuhkan kepercayaan diri mereka.
Mulai dari hal sederhana: mewajibkan ikut komunitas di Malang (IT atau non-IT), asal bertemu anak luar kampus. Menyuruh mereka nimbrung di forum online macam Kaskus.

Dan yang terpenting, mereka mau dan berani ikut lomba.

Berbekal mantra sakti, “Niatkan cari pengalaman, menang itu hanya bonus,” akhirnya ada yang berani dan mau ikut lomba tanpa perlu diwajibkan oleh kampus.

Itu contoh yang “berhasil” saya cuci otak?

Yang tidak “berhasil”, tentu ada.
Dan mungkin lebih banyak.
Toh nabi saja tidak bisa memberikan hidayah, apalagi saya yang cuma dosen kontrak.

Tapi saya bersyukur, sebelum saya keluar, ada pencapaian.
Anak-anak yang dulu minder setengah mati dengan “almamater tak terkenal”-nya, dalam sebuah ajang hackathon di PTN besar, mereka berhasil mengalahkan tuan rumah, si PTN besar—yang dianggap kumpulan anak pintar itu.

Ketika diumumkan ada tim dari kampus mungil kami yang menjadi juara 1 hackathon, mengalahkan banyak tim dari PTN besar penyelenggara...

Di situ saya mewek, semewek-meweknya.
Ingin nangis.
Enggak percaya, terharu, semua campur jadi satu.
Saat pengumuman tadi, sampai ada mahasiswa tuan rumah yang nyeletuk,
“Hah? STIKMA? Kampus mana itu?”

Saya tak peduli!

Misi saya bukan mengenalkan kampus.
Misi saya menumbuhkan kepercayaan diri anak didik.

Eh, bisa lho, anak kampus swasta kecil tak terkenal, yang dulu dicap "tidak pintar" itu, bisa mengalahkan anak-anak PTN dari kampus terbesar di kota kami.

That's it...
Satu mitos telah diruntuhkan.
Satu percik api selesai dibagikan.

#100harinulis