Baru-baru ini saya mengobrol dengan seorang engineer yang "selamat" dari PHK di startup ternama. Menariknya, sebulan sebelumnya, saya justru bertemu engineer lain dari startup yang sama—yang "tidak selamat" dari gelombang PHK tahun ini.
Si "survivor" cerita: sebelum gelombang PHK mulai dua tahun lalu, tim engineer di kantornya ada 280 orang!
Bro!! Itu ENGINEER saja sudah 280 kepala!
Itu active engineer di masa puncaknya. Belum tim bisnis dan lainnya, yang sampai 5.000-an.
Sekarang?
Setelah beberapa kali gelombang PHK, dari 280 engineer tadi, hanya tinggal 30-an orang.
Saya heran, untuk apa engineer sebanyak itu?
Padahal, core business startup tersebut bukan yang engineering banget.
Kalaupun butuh engineer, bukan yang butuh spek “hardcore”.
Usut punya usut, ternyata... hampir semua tools internal mereka bikin sendiri! CRM, sistem HR, bahkan alat operasional harian—dibangun dari nol oleh tim internal. Terbayang kan resource yang dibutuhkan? Padahal, tools-tools itu bukan sumber revenue utama, cuma pendukung operasional sehari-hari.
Padahal, di tempat lain, hal seperti itu tak jarang pakai solusi yang sudah ada: beli lisensi, langganan SaaS, atau pakai ERP open source seperti Odoo/ERPNext untuk fondasi awal. Atau kalau mau custom: pesan ke vendor. Enggak perlu bikin sendiri dari nol! Perusahaan raksasa saja belum tentu berani begitu.
Tapi saya yakin, startup itu pasti punya alasan sendiri. Mungkin "sense of security" karena buatan sendiri, "sense of ownership", atau apa pun itu! Pasti ada alasan rela menghabiskan resource jumbo untuk membuat tools internal.
Mirip cerita pakar #ERP Danu Budi. Kantornya dulu ditawari proyek membuat ERP full dari nol, tapi budget-nya cuma ratusan juta. Beliau sarankan modifikasi dari yang sudah ada (ERPNext/Odoo). Lebih efisien, cepat, dan cocok di budget ratusan juta, bukan miliar karena dari nol. Tapi perusahaan itu ngotot mau bikin dari nol. Akhirnya... ya belum rezeki. Bedanya dengan startup tadi, perusahaan ini mau bayar vendor, bukan bikin tim internal sendiri.
Mungkin seperti mau punya rumah: bikin dari nol vs beli rumah second.
Rasionalisasi startup tadi mungkin mirip begitu.
Tapi saya membayangkan, ketika pertumbuhan bisnis mulai landai atau stuck, dan backlog development sepi... para engineer yang mengurusi tools "non-esensial" inilah yang kadang jadi korban pertama. Teman yang kena PHK di startup itu mungkin salah satunya.
Kalian bisa pro-kontra dengan keputusan si startup untuk me-reinvent the wheel tools kantor. Kontra karena boros resource. Pro karena, meski akhirnya ada PHK, setidaknya proyek itu "menghidupi" banyak orang selama beberapa waktu. Semua ada sudut pandangnya.
Semua ada alasan, semua ada plus-minusnya. Merencanakan hal seperti ini dalam jangka panjang jadi tantangan.
Malang, 10 Juni 2025
#100harinulis #100harimenulis