26. Seniman Agile

Saat belajar tentang *Agile*, *Scrum*, dan kawan-kawannya, saya tersadar—produk *software* itu ternyata sesuatu yang "hidup". Pemahaman ini cukup ber...

Saat belajar tentang Agile, Scrum, dan kawan-kawannya, saya tersadar—produk software itu ternyata sesuatu yang "hidup".

Pemahaman ini cukup bertolak belakang dengan pengalaman saya sebelumnya sebagai freelance programmer: klien datang, pesan program, saya kerjakan, jadi, kirim, selesai. Selesai benar-benar selesai.

Ibarat proyek konstruksi: orang bikin jembatan, kalau jembatannya sudah jadi, ya sudah. Tinggal dipakai. Lah, memang mau diapakan lagi?

Itu pengalaman saya dengan software-software saya dahulu. Mungkin karena saya mengerjakan zona simple dan complicated, bukan complex.

Tapi ketika saya mulai bekerja di perusahaan, saya mulai memahami bahwa software tak bisa selalu diperlakukan seperti itu. Software harus dianggap hidup—tumbuh dan berkembang. Fitur-fitur baru ditambahkan, tampilan diperbarui, arsitektur dirombak, dan lain sebagainya. Semua demi menambah value dari software itu sendiri.

Meski begitu, dalam hati, saya kadang masih suka kepikiran, “Lah, terus bagaimana dengan software proyek freelance saya dulu? Bukankah setelah selesai, enggak akan pernah dikembangkan lagi?”

Atau bahkan beberapa software project di kantor yang "mangkrak", di-hold karena faktor-faktor tertentu, padahal program sudah jadi.

Sampai suatu siang, seusai salat Zuhur, saya bertemu dengan mas-mas ini di masjid.

Kaos yang ia kenakan bertuliskan:
"Art is never finished, only abandoned."

Saya terdiam sebentar.
Lalu tersenyum.

Malang, 27 Mei 2025
#100harinulis #100harimenulis