Awal karier saya dimulai dengan PHP native—tanpa framework, tanpa Composer. Hanya kode "murni" yang ditulis sesuka hati. Setiap programmer punya "ciri khas" style kode masing-masing.
Lalu datang era PHP framework. CodeIgniter salah satu yang terkenal. Saya pun mulai mencoba “PDKT”, jalan “serius”, tapi ternyata hubungan “berantakan”.
Ekosistem PHP framework saat itu belumlah terlalu matang. Melakukan upgrade framework butuh “ritual” copy-paste file manual yang menghabiskan waktu. Framework juga menambah “lapisan” sehingga eksekusi lebih lambat, padahal saya sering butuh kecepatan untuk mengejar peringkat SEO.
Ribet, susah upgrade, jalannya lambat.
Saya benci PHP framework!
Saya kembali ke “pelukan” PHP native. Sampai pernah saya membuat library saya sendiri. Sampai teman geleng-geleng melihat saya membuat aplikasi sistem informasi rumit tanpa framework.
Zaman berkembang, muncul framework lain yang lebih baik dan lebih "mudah". PHP Composer sudah banyak dipakai. Melakukan upgrade framework umumnya sudah lebih mudah.
Hingga suatu hari saya sadar, membenci segala framework artinya menutup banyak pintu peluang. Mindset "anti semua PHP framework", membuat saya stuck jalan di tempat. Laravel, framework yang lagi naik daun, sayangnya sama sekali tidak saya kuasai.
Tahun 2017, seorang teman memesan aplikasi zakat. Di proyek itu, saya “buang” mindset "anti-framework" saya. Semua teknologi selalu ada plus minusnya. Dan yang terpenting:
"Jika kau tak berubah, kau akan punah."
Proyek itu jadi playground saya dalam belajar Laravel. Mengerjakan sambil belajar cara ngoding Laravel yang baik. Saya sampai membeli course Laracast demi dapat tutor terbaik. Alhamdulillah, aplikasi selesai—si pemesan puas!
The rest is history.
Saya terus pakai framework Laravel untuk proyek-proyek freelance lainnya. Bahkan saya mendapat pekerjaan di tempat saya sekarang, salah satunya juga karena Laravel.
Apakah cerita selesai?
Oh, tidak...
Pola yang sama, ternyata masih sempat terulang.
Saya sempat “ogah” dengan JS Framework—React. “Cukup vanilla JS saja!” prinsip saya.
Saya juga sempat “sensi” sama Golang karena sering dibanding-bandingke dengan Laravel yang sedang jadi idola saya.
Saya juga sempat sinis dengan Java, “Tahun 2020 begini memang masih ada yang pakai?”
Dan… kalian tahu?
Yup, di jalan menjemput rezeki, saya ternyata bergaul dengan React, Golang, dan Java Spring sekaligus.
Selalu amazed dengan cara Allah memberikan garis hidup seseorang.
Jadi kini, setiap kali saya merasa “anti” pada sesuatu—apa pun itu—saya coba berbicara pada diri sendiri, "Ini cuma fase. Bisa jadi kelak justru itu yang akan jadi jalan rezekimu."
Oh ya, melihat dari kasus-kasus yang sebelum-sebelumnya,
jika pola ini terus berlanjut...
Apa baiknya saya mulai membenci Ferrari saja, ya?
Siapa tahu itu jadi jalan rezeki saya kelak. #eh.
Malang, 12 Mei 2025
#100harinulis #100harimenulis #diaryAnakIT