3. Pahit Awet

Kemarin saya bikin kopi. Sesuai stok yang ada saja, kemarin pakai Excelso Robusta Gold yang saset-saset kecil itu. Kalau rajin biasanya saya siapkan *...

Kemarin saya bikin kopi. Sesuai stok yang ada saja, kemarin pakai Excelso Robusta Gold yang saset-saset kecil itu. Kalau rajin biasanya saya siapkan espresso pakai Moka Pot, tapi karena kemarin "banyak urusan", ya sudah, bikin Vietnam Drip saja.

Biasanya juga si kopi saya tambah krimer dan juga gula. Enaklah—versi saya tentunya. Kalau bikin jam sembilan pagi, sruput sedikit-sedikit sambil kerja, dan kopi biasanya habis sekitar zuhur.

Tapi kemarin saya mau beda!
Saya bikin tanpa gula, tanpa krimer.

Ya jelas pahit.
Puahit meski saya encerkan pakai air.
Jelas pahit, ini kopi bukan jeruk.

Hasilnya?
Kopi saya yang biasanya habis sekitaran zuhur,
kemarin kopi saya AWET sampai magrib.
Baru benar-benar habis jelang isya.

Meski ini tidak ada hubungannya,
soal "pahit" dan "awet" ini mungkin saling terkait.
Mungkin juga tidak.

Saya pun terpikir, apakah "pahit" dan "awet" ini bisa dibawa ke ranah lainnya?
"Pahit tanpa scroll-scroll", baterai HP biar awet.
"Pahit banyak jalan kaki", ban motor biar awet.
"Pahit rela berkorban", hubungan biar awet.
Dan pahit lainnya, misal gajian biar awet.

Setidaknya kopi dan saldo rekening saya, sama-sama setuju.

Malang, 12 Juni 2025
#100harinulis #100harimenulis #diaryAnakIT