Pernahkah Anda percaya pada sesuatu yang ternyata hoaks? Saya pernah! Dan ini ceritanya.
Dulu, ketika masih SMA, oleh kakak kelas di ekskul, saya diberi tugas sebuah mading untuk diisi. Saya ingat, saya menemukan sebuah artikel yang mind-blowing dari sebuah forum di internet. Waktu itu, internet masih merupakan barang mahal dan tak banyak yang biasa mengakses di kota kecil saya: Ponorogo.
Artikelnya—mungkin Anda pernah membacanya—tentang angka-angka seputar runtuhnya Menara Kembar WTC di New York tanggal 11 September (bulan 9) tahun 2001. Serangan yang memulai rangkaian invasi pemerintah Bush Jr. ke Afganistan dan Irak. Sebagian dari Anda yang membaca mungkin belum lahir saat itu.
Artikelnya sebenarnya sederhana, seputar angka-angka 9-11 yang (jika) dikaitkan dengan Al-Qur'an, juz ke-11, surat ke-9, jumlah lantai, dan seterusnya. Kok ndilalah bisa dikatakan "relate". Mulai dari topik terjemahan ayat dan hal-hal lainnya. "Wah, ini menarik benar!" batin saya waktu itu.
Singkat kata, artikel itu saya print dan tempel di mading. Banyak juga yang baca, dan ini termasuk salah satu artikel yang tidak kena bredel oleh guru sekolah saya waktu itu.
Saya masih terlalu radikal waktu itu, hihihi. "Mohon maaf para teman SMA saya, kalian pernah jadi korban praktik jurnalisme yang buruk dari saya waktu itu." Peace...
Belakangan, waktu kuliah, saya baru tahu kalau artikel itu mengandung konten hoaks dan pemaksaan narasi. Soal utak-atik gathuk antara angka-angka ayat, jumlah lantai, dan lainnya. Beberapa memang dibilang "maksa" banget, seperti menyebut WTC ada di jalan Jerf Haar dan ada kata Jurufin Haar di At-Taubah ayat 109—yang disebut sama dengan jumlah lantai di WTC. Padahal, tak ada jalan itu di mana pun di New York, dan WTC ternyata 110 lantai, belum termasuk 6 lantai basement di bawahnya.
Era itu belum ada Google Maps. Google sendiri masih baru, berusia sekitar tiga tahun. Internet masih dikuasai Yahoo! Group. Tak ada banyak validator untuk melakukan cross-checking hal-hal macam ini. Saat itu, hoaks belum sebanyak sekarang. Sudah ada, tapi umumnya cuma jadi urban legend saja di forum-forum bebas. Ini era jauh sebelum beredarnya foto anak durhaka dikutuk jadi ikan pari. Beberapa yang lain umumnya dalam bentuk buku-buku seperti "Dajjal akan Muncul dari Segitiga Bermuda" dan lain-lain. Teman saya yang ikut baca bahkan sampai begitu percayanya dengan buku ini (Duh, sorry, Mas Put!). Tidak ada bukti ilmiah atau religius yang mendukung klaim ini.
Fast-forward ke depan, internet kian banyak pemakainya dan kian banyak pula hoaks yang memapar. Saya pernah hampir percaya bahwa vaksin ternyata berbahaya dan jadi sumber konspirasi. Untung ada teman-teman saya, para dokter, yang memberikan pemahaman.
Bersyukur, untungnya makin ke sini, saya jadi makin kritis dalam memilah. Tak lagi menelan mentah-mentah apa yang ada di media massa, apalagi yang di sosial media.
Pernah ikut pelatihan singkat jurnalistik masa kuliah, jadi makin tahu bagaimana "trik-trik" penyajian fakta untuk kepentingan tertentu. Bahkan sekarang jadi tahu juga trik-trik membangun narasi "hoaks" yang meyakinkan—satu ilmu yang tidak pernah saya praktikkan.
Tentu Anda pernah tahu ada hoaks, setidaknya di grup keluarga Anda pasti ada. Covid kemarin tentu jadi ajang utamanya. Bumi datar juga salah satunya.
Satu hal yang bisa saya katakan kenapa hoaks bisa dipercaya dan bisa menyebar luas:
KECENDERUNGAN MANUSIA
MENGHUBUNG-HUBUNGKAN SESUATU
SESUAI KAPASITAS PIKIRANNYA.
Istilah kerennya Connecting the Dots. Istilah Jawanya Utak-Atik Gathuk.
Rangkaian peristiwa yang—sebenarnya tidak relate—tapi karena tampaknya make sense, kita jadi percaya. Apalagi jika ditaburi "micin" mistik dan religi semisal "Tanda-tanda akan datang musibah besar!". Bagi tim non-tahayul pun tak lepas juga, dengan frasanya sendiri, "Oh, gitu cara mainnya?" atau "Memang dasar pemerintah!". Dan banyak lainnya, tak sedikit juga versi rasisnya bahkan.
Karena semua orang punya "alam pemikirannya", punya "keyakinan konseptual" yang ia percayai, yakini, bahkan rela mati untuk ini.
Terus, bagaimana, dong?
Itulah kenapa dalam sains—yang diajarkan dosen saya saat S2 dulu—pentingnya melakukan skeptis, kritis, dan validasi terhadap segala jenis informasi yang beredar. Bahkan jika itu beredar di komunitas ilmiah dalam bentuk jurnal ilmiah sekalipun.
Karena Connecting the Wrong Dots adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya dalam lingkup pengaruh Anda. Tak peduli lingkup pengaruh Anda sebagai orang tua, lebih-lebih presiden negara adidaya.
Mengutip kata Cikgu Morpheus di tahun 1999: "Your mind makes it real."
Jadi… selamat berpikir kritis… Neo!
Malang, 19 Maret 2025
#100HariNulis #100HariMenulis