6. (Saya) Terima Lalu (Saya) Sapa

Enggak semua teman *offline* saya punya LinkedIn. Yang punya pun tak semua aktif. Teman, tetangga, dan saudara umumnya ada di *sosmed* sebelah. Saya p...

Enggak semua teman offline saya punya LinkedIn. Yang punya pun tak semua aktif. Teman, tetangga, dan saudara umumnya ada di sosmed sebelah. Saya pun maklum jika mayoritas pertemanan di LinkedIn saya adalah orang yang belum pernah saya temui sebelumnya.

Belakangan, ketika saya mulai sering 'curhat' karena ikutan grup #100harinulis, lah kok ndilalah jadi banyak yang follow dan meminta request connection ke saya. Saya sendiri senang saja, hitung-hitung menambah kenalan, menambah insight, menambah #teman, menambah saudara baru.

Jika saya cek, kebanyakan asalnya dari 2nd atau 3rd connection. Ada juga yang jauh, entah #tier ke berapa. Bahkan ada juga beberapa request connection dari Pakistan.

Berhubung jumlah koneksi saya pun juga masih jauh dari limit maksimal LinkedIn: 30.000, maka saya pun pakai metode "Accept Them All". Oh ya, termasuk Anda yang membaca tulisan ini dan mau connect dengan saya, insyaallah akan saya accept dengan senang hati. Tapi, mohon maaf jika tulisan-tulisan random saya akan banyak 'nongol' di linimasa Anda. Meski saya berlatar belakang #IT, tapi saya usahakan menulis semudah mungkin agar orang non-IT pun bisa menikmati.

Dulu, setiap ada request connection baru, jempol ini refleks menekan 'Accept', seolah menambah koleksi kartu nama digital tanpa pernah benar-benar membaca isinya.

Tapi kemudian, muncul sebuah pertanyaan sederhana: "Buat apa ribuan koneksi kalau enggak menghasilkan sesuatu yang bermakna?"

Maka dua pekan terakhir, saya punya kebiasaan baru.
Setiap ada yang meminta request connection, maka saya akan:

  1. Cek dulu profilnya, ya, ingin tahu, ingin kenal, lah. Siapa ini yang mau connect dengan saya. Alhamdulillah, kebanyakan orang riil.
  2. Saya #TERIMA request connection-nya, LALU...
  3. Saya #SAPA beliau duluan via message. Saya memperkenalkan diri.

Ada yang membalas, ada juga yang masih sibuk.

Ajaibnya, dari sapaan-sapaan remeh ini, justru muncul kejutan-kejutan tak terduga. Dapat ilmu web scraping dari Mas Hanif, kabar kangen yang menghangatkan dari Mas Ismail, hingga serunya ngobrol ngalor-ngidul pakai bahasa Jawa dengan Mas Faza.

Bagi seorang #introvert seperti saya, ini sebenarnya mirip anak 'kuper' memberanikan diri membuka jendela dan mendapati dunia luar ternyata lebih ramah dari yang dibayangkan.

Mungkin metode saya "terima lalu sapa" ini kelihatannya remeh.
Tapi bagi saya, ini adalah cara mendobrak tembok "kekakuan LinkedIn" dan mencoba membangun jembatan yang lebih personal.

Siapa tahu, di antara puluhan sapaan ini, akan tumbuh persahabatan, kolaborasi, atau bahkan ide-ide baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Atau bahkan...
Ada yang kelak membantu kita 'diseret' ke surga-Nya kelak?

Well... who knows?

Malang, 7 Mei 2025
#100harinulis #100harimenulis