Sabtu akhir pekan kemarin saya ketemu teman. Awalnya kami berencana ngopi bareng di sebuah kafe dekat rumah. Saya sampai duluan, ndilalah, kafenya belum buka - masih terlalu pagi. Akhirnya sama beliau, saya diundang melipir saja ke rumahnya. Toh rumahnya dekat kafe tersebut. Di sana, di ruang tamu rumahnya yang juga ruang kerjanya, di depan rak bukunya yang penuh, ditemani teh kombucha dan sourdough buatannya. Kami ngobrol banyak hal. Ohya, teman saya ini bukan lulusan IT. Dia dulu dari Akuntansi.
Tapi jangan salah. Dia pernah jadi founder startup SaaS di Malang. Belajar ngoding otodidak. Tech savvy. Meski kekuatannya lebih banyak di product thinking dan sisi bisnis, dia cukup paham teknologi untuk tahu bagaimana sebuah produk dibangun. Di tengah obrolan, kami sampai pada topik yang belakangan sedang ramai: vibe coding. Dia bercerita, belakangan banyak teman-temannya sesama pebisnis - termasuk beberapa influencer - mulai ikut bikin produk digital sendiri. Bikin SaaS. Ide-idenya menarik. Problem yang ingin diselesaikan juga nyata. AI bikin semuanya terasa mungkin. Namun ternyata ada pola yang berulang. Sebagian besar dari mereka pada akhirnya sampai di titik tertentu, LALU BERHENTI, stuck! Produknya jadi, bisa dipakai, bisa didemo, bahkan kadang sudah bisa dijual.
Tapi tidak bisa berkembang lebih jauh. Bahasa kami waktu itu: Produknya DANGKAL. Bukan, bukan karena mereka tidak pintar. Justru sebaliknya. Banyak di antara mereka orang-orang cerdas dengan pengalaman bisnis yang kuat.
Tapi mereka tidak punya fondasi teknologi yang cukup dalam untuk membawa produknya melewati BATAS tertentu.
Karena pada akhirnya, sehebat apa pun AI, hasilnya tetap bergantung pada orang yang memandunya. AI bisa mempercepat, membantu, menghasilkan ribuan baris kode.
Tapi AI tidak otomatis menggantikan pemahaman. Mau merekrut programmer? Kadang tidak punya programmer ini. Kadang ketemu programmer, tapi programmernya pun skill nya belum ‘sampai’ di level kompleksitas yang dibutuhkan. Dari situ kami sampai pada satu kesimpulan sederhana: masih ada batas yang belum bisa ditembus oleh vibe coding. Ada lapisan-lapisan tertentu yang sampai hari ini masih butuh engineer sungguhan. Orang yang mampu mendesain sistem dalam. Memahami trade-off. Mengerti kebutuhan bisnis sekaligus implikasi teknisnya.
Karena seringkali SaaS bukan sekadar aplikasi multi-user yang dikasih fitur subscription. Tak jarang… .SaaS jauh lebih rumit dari itu. \n\n---\n\n Dulu, semua hal terkait bikin software identik dengan kata SUSAH. Setidaknya SaaS masuk disini. Zaman sebelum AI, bahkan untuk bikin SaaS yang “sederhana” pun perjuangannya panjang. Rancang database. Pilih framework. Nulis kode sendiri. Setup server. Deployment. Debugging, Konfig domain, SSL, dll. Semuanya tak jarang harus dipikir sendiri. Filternya berlaku universal: SUSAH. Senior kesulitan. Junior apalagi. Bedanya cuma di seberapa cepat mereka bisa keluar dari kesulitan itu.
Hari ini situasinya berubah. Vibe coding bikin lapisan software "paling dangkal" jadi SANGAT MUDAH. Login? Bisa. Dashboard? Bisa. Subscription? Bisa. Dalam hitungan jam, sesuatu yang dulu butuh berminggu-minggu, kini muncul hanya dari ngobrol dengan AI.
Saya sendiri kadang masih suka geleng-geleng lihat kecepatannya. Dulu bikin fitur search dan CRUD butuh mikir query, pagination, filter... sekarang? Prompt doang. "Bikin search bar dengan filter dan pagination." Jadi. Beres. Goks banget! Tampilannya keren-keren pula! Tapi justru di situ jebakannya.
Karena yang instan itu - hampir selalu - hanya sampai di pinggiran, dangkal saja.
Ibarat berenang di pantai: airnya jernih, dasarnya kelihatan, nyaman.
Tapi coba berenang lebih jauh ke tengah.... Dasarnya mulai gelap, tak terlihat. Arusnya mulai terasa. Ombaknya mulai besar, Tak ada pulau di cakrawala yang jadi acuan navigasi.
Dan di titik itu, kami sepakat AI mulai “goyah”.
Tapi begitu mulai masuk ke lapisan ‘perairan’ yang lebih dalam, situasinya berubah. Optimasi query yang benar. Aturan bisnis yang penuh pengecualian. Konsistensi kode, data yang harus tetap konsisten di berbagai kondisi, role akses control, arsitektur yang harus melayani ribuan atau jutaan pengguna. Di titik-titik seperti itu AI saat ini mulai goyah jika "sendirian", jika bekerja tanpa panduan dan pengawasan. Kadang kasih solusi yang bisa saja keliatan benar - tapi ternyata salah secara fundamental. Kadang menghasilkan sesuatu yang bekerja hari ini - tapi jadi bom waktu enam bulan kemudian.
Dan di situlah SALAH SATU batas 'drop off' laut yang dimaksud teman saya tadi. Suka atau tidak, jurang antara produk dangkal dan produk dalam bukan hilang karena AI. Justru akan makin kelihatan. Dulu produk dangkal dan produk dalam, sama-sama mahal untuk dibuat. Sama-sama sulit. Perbedaannya ada, tapi tertutup oleh tingginya “barrier of entry” nya, “biaya masuk”-nya. Sekarang produk dangkal jadi murah, cepat, dan bisa dibuat hampir siapa saja. Sedangkan produk yang benar-benar dalam - tetap sulit. Tetap mahal. Tetap langka. Jurangnya bukan mengecil. Jurangnya justru melebar.
Dan mungkin disitulah ironi terbesar dari demokratisasi teknologi. Semakin mudah bikin sesuatu, semakin kelihatan nilai dari orang yang benar-benar paham apa yang sedang dibuatnya. \n\n---\n\n Sebagai penutup, kalau saya boleh nitip pesan untuk rekan-rekan IT (utamanya freshgrad / junior): JANGAN BERHENTI DI VIBE CODING. Anggap saja vibe coding itu pantai dangkal. Menyenangkan. Airnya jernih. Ombaknya tenang. Kalian bisa snorkeling seharian, mancing ikan-ikan kecil, main pasir. Semua instan. Semua indah. Semua terasa... cukup.
Dan memang cukup - kalau tujuan kalian cuma sampai di situ.
Tapi engineer sejati tidak ditakdirkan untuk selamanya di tepian. Di kejauhan, di balik cakrawala, ada perairan yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih liar.
Di sanalah ikan-ikan raksasa berenang.
Di sanalah harta karun sesungguhnya tersimpan.
Dan untuk mencapai laut lepas itu, kalian tidak bisa cuma pakai perahu dayung-mu. Kalian harus belajar mengembangkan layar. Belajar membaca peta dan arus. Belajar navigasi di tengah badai. Memperkuat badan kapal agar tidak remuk dihantam ombak. Paham tempat-tempat perbatasan - saat angin tiba-tiba lenyap seperti di perairan Calm Belt - dimana kapal kalian harus tetap bisa bergerak tanpa bergantung pada layar.
Dan yang paling penting: bersiaplah menghadapi makhluk-makhluk raksasa seperti Sea Kings di kedalaman. Masalah-masalah yang hanya muncul di laut dalam.
Yang tidak akan pernah kalian temui di pantai dangkal.
Saya sendiri masih belajar membangun kapal saya. Masih dungu, masih jauh dari seorang kapten hebat.
Tapi setidaknya saya tahu: "jangan pernah puas di tepian". Jangan habiskan seluruh kariermu hanya bermain di bibir pantai. Terus belajar. Terus upgrade kapalmu. Kumpulkan kru yang bisa diandalkan. Pelajari arsitektur yang lebih kompleks. Masalah yang lebih sulit. "Lautan yang lebih dalam". Bermain di sekitar pantai memang menyenangkan.
Tapi harta karun terbesar hanya bisa ditemukan saat kita berani mengarungi samudera terdalam. Malang, 11 Juni 2026