Ditulis pada 14 Juni 2006, telah disunting agar sesuai konteks kekinian.
“Matematika di sekolah tidak akan bisa menjelaskan tentang nilai dan harga sebuah kebaikan”
(anonim)
Ada banyak profesi yang sebenarnya bagus, namun jika ditilik lebih lanjut, bagus tidaknya sebuah profesi ternyata tidak hanya tergantung pada apa profesinya, tapi juga siapa yang menjalankannya. Seperti halnya pengamen langganan keluarga kami yang sudah pernah saya ceritakan, demikian pula dengan penjual sate gule kambing ini. Namanya pak Kandar, ia memiliki sebuah warung di dekat perempatan jalan, dekat sebuah pabrik es dan pos polisi. Barangkali, namanya di kota kami memang kalah tenar dengan penjual sate gule kambing lain yang lebih senior, namun tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya kualitas sate gule kambing Pak kandar bisa saya katakan lebih daripada yang lainnya. Hal ini terbukti bahwa tak sampai sore, biasanya sate-nya sudah habis terjual. Jadi jangan heran, jika selepas ashar anda akan sulit menemukan warung ini masih buka. Mungkin karena tempatnya yang agak di pinggir kota membuat nama Pak Kandar tidak terlalu dikenal.
Salah satu keunikan dari warung pak kandar ini adalah ia tidak menggunakan kipas tangan seperti halnya tukang sate kebanyakan, ia menggunakan kipas angin. Aku jadi tersenyum sendiri dengan hal ini. “Pinter juga orang ini, nggak perlu capek-capek kipas-kipas”, pikirku dalam hati. Namun keunikannya tak berhenti sampai disitu.
Pada mulanya aku berpikir bahwa orang ini tentulah melakukan kesalahan. Kami hanya pesan sate per piring 10 tusuk, tapi yang ada dihadapan kami ternyata 12 tusuk. Coba kuhitung lagi, dan memang dua belas tusuk…!! Masih kurang yakin, coba kuhitung juga sate yang ada di piring ibuku, dan ternyata memang sama, dua belas tusuk…!! punya ayahku pun juga sama, dua belas tusuk.
“Kok dua belas, Mi..??!!”, tanyaku pada ibuku.
“Kalau disini memang begitu, kalau beli sepuluh, kita dapatnya dua belas tusuk…”
“kok bisa begitu ya..??”, tanyaku lepas.
Namun tak urung aku diam juga. Toh dua belas tusuk sate di hadapanku ini justru membuatku kian girang. Memang siapa sih yang nggak senang kalau dikasih bonus…??
Pak Kandar adalah satu diantara sekian pedagang yang mampu memberi lebih. Dan sebenarnya masih banyak contoh yang lain. Seperti juga seorang penjuah buah segar di gerbang belakang kampus saya di brawijaya. Terkadang jika sedang ingin-inginnya, maka tak lupa kusempatkan untuk membeli buah dari orang ini. Lumayan, seribu perak dapat 3 potong buah (harga yang sangat murah untuk ukuran jajanan sehat kala itu). Yah sekedar pemenuhan gizi, pikirku. Namun hal unik yang seringkali saya temui, adalah jika di sore hari, selepas Ashar misalnya, setiap saya membeli buah dari orang ini, tak lupa ia memberi tambahan. “Tunggu mas, tak kasih bonus..!!”, ucapnya seraya memasukkan tambahan 2 potong buah ke dalam tas kresekku. “Lumayan… “pikirku. Jadilah jika tidak dalam keadaan terpaksa, sekedar menyiasati aku pun membeli buah hanya tiap sore saja. He…he..he sekedar mencari bonus.
Ya, masih banyak contoh-contoh lain disekitar kita, yang barangkali kita perlu belajar banyak hal tentang hal ini. Sebuah pelajaran dimana, barangkali, banyak orang yang memilih untuk menge-pas-kan bahkan mengurangi timbangan mereka, atau demi keuntungan yang maksimal, namun orang-orang semacam Pak Kandar dan penjual buah tadi memilih untuk melakukan yang sebaliknya. Mereka memberi lebih. Dan itu tentu menyenangkan para pelanggannya. Mereka tak hanya menjual produk, tapi juga memberi pelayanan.
Salah seorang ustadz mengatakan, bahwa orang-orang yang mampu memberi dan berkorban lebih, sebenarnya mereka adalah orang yang tidak terikat akan dunia. Ya, dunia, baginya seperti sebuah falsafah orang jawa, “urip mung mampir ngombe” (hidup hanya mampir untuk minum). Ada banyak alasan kita memberi lebih. Ada yang karena ingin dipuji, ingin mendapatkan image yang bagus, atau juga hal yang patut kita perhitungkan, kejujuran. Seperti saya pernah membaca sebuah cerita tentang seorang pedagang buah, yang jika seseorang membeli selusin, maka ia selalu menambah dengan satu buah lagi. Ya, baginya selusin adalah tiga belas. Ia beralasan bahwa ia khawatir jika diantara ke dua belas buah yang dijualnya tadi, mungkin terdapat satu atau dua yang rusak atau tidak layak.
Namun bagaimanapun juga, memberi lebih tak harus lewat barang. Seperti seorang teman di rohis SMA ku dulu. Sebut saja Anang namanya, setiap ia ku mintai tolong untuk mengantarkanku pulang ke ujung jalan, eh Dia justru mengantarkan aku pulang ke rumah yang tidak searah dengan tujuan dia. Padahal rencana semula saya ingin naik kendaraan umum saja, namun apa mau dikata.. memang begitu..!!
Ngomong-ngomong, saya jadi ingat akan sebuah pepatah.
“The more you give, The more you get..!!”,
apa benar begitu ya..?? wallahu ‘alam.