Ditulis pada 18 Februari 2007, telah disunting agar sesuai konteks kekinian.
Saya termasuk orang yang tidak begitu suka dengan rekreasi. Entah kenapa, barangkali saya memang malas untuk bepergian jika hanya untuk rekreasi. Ditambah lagi saya pikir hal tersebut hanya buang-buang uang – setidaknya begitulah pikiran saya. Saya baru mau untuk rekreasi setelah ada paksaan dari pihak lain, atau setidaknya jika hal itu bisa membuat orang lain gembira dengan keberadaan saya diantara mereka, -hal yang jarang sekali tentu-.
Ketika masih kecil, sebenarnya saya tak sampai berpikir sejauh itu. Toh rekreasi atau tidak, kalau orang tua mengajak, saya tetap mau tak mau harus ikut juga. Hanya saja waktu itu yang tidak saya suka dari rekreasi, karena ia selalu identik dengan bepregian jauh. Dan itu berarti saya harus naik bus. Padahal saya sering sekali mabuk kendaraan. Saya pun beranjak dewasa dan hampir tidak pernah lagi mabuk kendaraan. Namun entah kenapa saya tetap tidak terlalu berminat untuk acara-acara rekreasi. Terlebih jika formatnya yang hanya untuk senang-senang saja. Alasannya ya itu tadi, malas, buang-buang waktu dan buang-buang uang. Toh, jika saya ingin pikiran saya fresh, saya tak perlu sejauh itu keluar uang dan waktu. Mana capek lagi dalam jika harus menempuh perjalanan jauh.
Bagi saya, beberapa jam bermain game di depan komputer, membaca buku, nonton film, atau setidaknya ke sebuah tempat di kota saya-entah itu sawah, gunung, sungai, masjid, kafe, alun-alun- sambil membaca, sudah sangat cukup untuk membuat pikiran saya fresh. Toh saya juga jarang sekali membutuhkan rekreasi karena sampai sekarang saya sadari bahwa saya jarang sekali merasa depresi dan suntuk. Karena itu pula, sejak SMA sampai sekarang, saya jarang sekali ikut kegiatan yang namanya rekreasi. Terlebih jika yang tujuannya senang-senang tadi harus keluar biaya ekstra dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Ketika SMA saya mengadakan tur beberapa hari ke Bali, saya memilih untuk tidak ikut. Saya beralasan karena kegiatannya hanya senang-senang menghabiskan uang. Teman-teman bahkan wali kelas pun sudah membujuk, namun saya kukuh pada pendirian saya. Orang tua bahkan didatangkan untuk membahas masalah ini. Maklum, karena sebenarnya waktu itu, tidak ada masalah untuk biaya saya tour ke Bali. Namun untungnya saya dan seorang teman lolos sebagai finalis dalam sebuah acara Lomba Penelitian Ilmiah Remaja. Sehingga saya pun akhirnya punya alasan ekstra bahwa saya harus mempersiapkan keberangkatan teman saya tersebut untuk final di Jakarta. Toh, di Jakarta saya justru mendapatkan banyak hal yang –bagi saya- jauh lebih bermanfaat dibanding teman-teman yang berwisata ke Bali.
Tak cukup sampai di situ, bahkan pernah ketika orang tua saya mengadakan acara menginap di sebuah villa di luar kota selama 2 hari, saya justru lebih memilih berdiam di rumah. Padahal, saya tak perlu membayar sepeserpun untuk itu. Semua sudah ditanggung orang tua dari uang bonus perusahaan. Namun entah kenapa saya tetap memilih tidak ikut dalam wisata keluarga tersebut, dan memilih menjaga rumah sekaligus menjadi satu-satunya anggota keluarga yang tidak ikut rekreasi. Begitulah, sejak masuk SMA hingga saya kuliah, saya hampir tidak pernah mengikuti acara yang namanya rekreasi. Sampai sekarang, jika saya sedang jenuh dengan kegiatan kampus, paling-paling saya hanya pergi, jalan-jalan ke mal, atau bahkan ke perpustakaan. Kalaupun rekreasi, itu atas inisiatif saya sendiri dan biasanya sih tak jauh dari hal-hal yang saya saya anggap bermanfaat, semisal ke museum atau ke kolam renang misalnya. Intinya, yang tak menghabiskan banyak biaya, dan mendatangkan banyak manfaat.
Tak terkecuali di liburan semester kemarin. Suatu hari, seorang teman meng-SMS saya, isinya sebuah pengumuman bahwa siapa saja yang ingin ikut rekreasi ke Jatim Park, silahkan siapkan uang 30 ribu (jumlah yang bagi mahasiswa saat itu cukup untuk biaya hidup beberapa hari). Jika tidak, boleh ikut menginap ke villa miliknya saja dan gratis. Ya, untuk pertama kalinya selama kuliah, saya diajak turut dalam sebuah acara rekreasi. Kali itu, tujuan utamanya adalah ke Jatim Park, sebuah amusement park (taman hiburan) yang berada di kota Batu, sekitar setengah jam perjalanan dari kota Malang. Rencananya, kami akan menginap di Villa milik salah seorang teman di kota Batu tersebut. Dan bisa ditebak, -lagi-lagi dengan alasan biaya- saya memutuskan untuk hanya ikut ke villanya saja. Bagi saya, villa tersebut sudah lebih dari cukup untuk sejenak melupakan masalah-masalah saya di Malang. “Kalau aku disini, seolah-olah aku sudah lupa semua masalah yang ada di kampus”, begitu kata temanku si pemilik villa. Dan memang begitulah kenyataannya, suasana yang dingin sejuk, dengan background gunung dan areal persawahan, memang membuat setiap orang betah berlama-lama disana. Tak terkecuali saya. Dan saya pun akhirnya mengatakan bahwa saya ikut ke villa-nya saja, dan tidak ke Jatim Park.
Jadilah hari itu, setelah menyiapkan segala sesuatunya, pakaian, jaket, dan membawakan selimut pesanan teman, kami pun berangkat ke villa. Tak sampai satu jam, kami pun sampai ke villa teman saya tersebut. Setelah unpacking dan beres-beres, saya pun ke beranda belakang, duduk-duduk menikmati pemandangan beserta beberapa teman yang lain. Hari sudah mulai panas, “Ayo, siap-siap, sudah jam 10 nih, kita berangkat yuk!”, ujar salah seorang teman dari dalam villa. “Ayo Hid!”, temanku mengajak. Dia memang tidak tahu jika saya tak berencana ikut ke jatim Park, hanya temanku pemilik villa yang tahu.
“Aku nggak ikut”, jawabku singkat.
“dia lebih sayang ma uang 30 ribu nya!”, komentar temanku pemilik villa.
Ya, jujur –bukannya pelit- namun memang saya sayang dengan uang segitu jika dihabiskan untuk bersenang-senang –setidaknya begitu pikirku saat itu-. Bagaimanapun juga, dengan uang 30 ribu, itu bisa untuk uang makan saya selama sepekan. Apalagi kondisi keuangan sedang krisis-krisisnya, mengingat uang kiriman orang tua baru datang 3 pekan lagi. Namun jika tidak ikut, sebenarnya sayang juga, jarang ada kesempatan seperti ini lagi. Jika saya ke Jatim Park sendirian, rasanya tak mungkin (nggak bakalan), dan mumpung kali ini ada rombongan untuk bersama-sama kesana. Jadilah saya waktu itu bimbang. Kalau uang, sebenarnya saya pun membawa, kalaupun tidak saya yakin pasti ada yang mau meminjami saya. Saya pun bimbang.
Dan agaknya temanku si pemilik villa ini pun juga tahu akan kebimbanganku. “Eh, yakin ta? 30 ribu itu sudah termasuk seluruh fasilitas arena didalamnya (sebuah harga tiket terusan yang terbilang sangat murah kala itu)? Soalnya dulu waktu aku kesana, 30ribu itu belum termasuk apa-apa.” tanya temanku memastikan.
Jujur, aku yakin pertanyaan tersebut sebenarnya ditujukan untuk meyakinkan aku. “Iya-ya, yakin deh kalau nggak percaya telepon aja!” ujar temanku satunya.
Dan benar saja, temanku pemilik villa ini pun menelepon. Ia pun sebenarnya tak terlalu yakin bahwa harga tersebut sudah termasuk fasilitas ke seluruh wahana di dalamnya, mengingat katanya ia dulu pernah ke jatimpark dan harga tersebut belum termasuk seluruh fasilitas taman bermain di dalamnya. “Ya, 30 ribu sudah termasuk semua wahana kecuali columbus… dan.. “, temanku menyebutkan 3 wahana lain yang tidak termasuk dalam harga 30ribu tersebut. Saya yang sama sekali tidak pernah ke jatim park, mau tak mau mengikuti pembicaraan mereka. Secara otomatis, semakin tertarik.
“Sebenarnya ada apa aja sih di sana?” tanyaku penuh selidik.
“wah macam-macam, ada spinning coaster, rumah hantu, rumah pipa, taman burung, taman reptil, taman ikan.. dan.. sudah deh, buanyak pokoknya!”, seorang teman berpromosi.
“Iya, katanya sekarang sudah banyak, dulu masih sedikit!, waktu aku kesana, masih ada buldozer-buldozernya, masih dibangun seperti itu”, temanku yang lain menanggapi.
Secara otomatis, sebenarnya aku pun sudah tertarik. Namun masih sedikit ragu-ragu mengingat sebenarnya saya dalam kondisi krisis, dan lagi, dengan uang 30 ribu tersebut, itu bisa untuk uang makan saya selama sepekan (selama ngirit). Mau pinjam uang?
Malu dong! Mau taruh dimana harga diri saya! Tapi jika saya tidak ikut, maka saya pun akan menjadi satu-satunya peserta rombongan yang bakal tertinggal di Villa. Dan itu artinya, selama 6 jam, saya harus sendirian di villa. Sendirian di sebuah villa yang bukan milik saya.
“Sebenarnya kalau uang 30 ribu sih bawa, tapi…..” ujarku setengah ragu.
“Ayo wis… ikut… pengalaman itu mahal harganya lho..!”, ujar temanku pemilik villa.
‘Pengalaman itu mahal harganya…..’ kata-kata ini sentak membuatku sadar.
Di dalam villa, teman-teman sudah ramai berkemas, bersiap-siap menuju Jatim Park. Ada yang ribut dengan kamera, ada yang masih membahas dengan siapa mereka berangkat, dan lain-lain. Aku hanya diam, dalam hati saya pun membenarkan perkataan temanku barusan. Pengalaman itu mahal harganya!!
“Gimana Hid, Ikut? Nggak bakalan nyesel dah!!” ajaknya memprovokasi.
Setelah merenung sejenak, coba menentukan skala prioritas, termasuk gambaran anggaran riil jika saya putuskan untuk ikut. Termasuk kemungkinan saya tentu akan lebih banyak berpuasa sekaligus sambil mengirit uang makan tentu.“Yup, ikut wis!”, jawabku singkat. Saya pun segera ikut berkemas, mempersiapkan apa saja yang perlu dibawa. Tak sampai sejam, kami pun sudah berada di lokasi. Dan mulailah pengalaman itu betul-betul saya rasakan. Selama beberapa jam kami menelusuri semua wahana yang ada.
“Wah, kalau 30 ribu dapat semua kayak gini, betul nggak rugi!” ujar salah seorang temanku.
Saya pun hanya mengangguk membenarkan. Saya baru sadar bahwa sudah lama aku tidak pernah rekreasi lagi. Dalam pengertian rekreasi yang sebenar-benarnya. Aku pun sudah lupa kapan terakhir kali saya pergi ke tempat semacam kebun binatang ataupun taman bermain, mungkin sekitar kelas 2-3 SD, dan itu pun tentu sudah banyak yang terlupa. Saya pun tidak pernah masuk yang namanya rumah kaca, rumah hantu, atau merasakan yang namanya spinning coaster dan wahana-wahana tempat bermain lainnya. Dan entah memang banyak hal baru yang pertama kali saya rasakan hari itu. Mulai dari atraksi ilmiah peralatan fisika dan kimia, memukul gong raksasa, menyaksikan fosil hewan purbakala, miniatur-miniatur candi di Indonesia, bagaimana mengemudi dan “berperang” dengan BoomBoomCar, merasakan bagaimana rasanya perut dan kepala diaduk dengan Spinning Coaster, rasanya mengayun dan jatuh bebas, mencoba mencari jalan keluar melalui tembok-tembok labirin di Taman Sesat, atau bahkan ‘bermain-main’ dengan hantu di rumah hantu. Semua adalah hal baru bagi saya.
Meski harus mengeluarkan uang 30 ribu disaat kondisi keuangan tengah krisis, namun saya tak menyesal. Saya memang tetap tak seberapa suka dengan rekreasi, toh rekreasi atau tidak, tak jauh berbeda bagi saya. Dan hari itu, di jatim park memang saya tidak sedang bersenang-senang seperti teman-teman lainnya. Sepulang dari jatim park saya tidak merasa lebih “fresh”, atau lebih senang seperti lainnya, karena toh dengan ke villa saja sebenarnya sudah cukup untuk sekedar mendinginkan masalah di kepala. Namun satu hal pasti, hari itu saya tidak membeli kesenangan dengan 30 ribu, saya membeli sesuatu yang jauh lebih berharga dengan uang makan saya. Saya membeli sebuah pengalaman. Sesuatu hal yang dikatakan sebagai guru terbaik karena ia mengajarkan manusia normal untuk mengulangi kesuksesan dengan lebih baik dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Namun juga sebagai guru yang buruk karena ia memaksa kita untuk melakukan sesuatu sebelum kita dapat mengambil pelajaran darinya. Ya, hari itu sebuah mendapat sebuah pelajaran berharga, bahwa Pengalaman itu mahal harganya. Saya masih tetap tidak begitu suka dengan rekreasi, namun mungkin saya akan berpikir ulang, jika saya bisa mendapat sebuah pengalaman berharga darinya.