Ditulis pada 23 Juli 2006, telah disunting agar sesuai konteks kekinian.
“Beliau membantu orang yang lemah, menolong orang yang sengsara,menghormati tamu, dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.” -Khadijah ra tentang akhlak Rasulullah SAW-
06.40 Masjid raden Patah, Jumat 21 Juli 2006
Situasi masih pagi benar, Namun sekumpulan aktivis itu sudah berkumpul di sekret sebuah SKI (Sie Kerohanian Islam). Beberapa yang datang terlambat segera menempati area yang masih kosong. Briefing sudah dimulai 10 menit yang lalu, dan di sekret itu pula, nampak setumpuk kardus-kardus kosong. Berjajar rapi. Kardus-kardus kosong berlapis koran dengan sebuah kertas folio tertempel di luarnya.
“BANTUAN PEDULI KORBAN TSUNAMI DI PANGANDARAN”
UAKI-Unibraw // Unit Aktivitas Kerohanian Islam
Begitulah yang tertulis di salah satunya. Ya, benar, hari itu, mereka -para aktivis- dari SKI berencana melakukan penggalangan dana untuk korban bencana Tsunami di pantai selatan. Sebagai sebuah bentuk kepedulian mereka semua terhadap saudara-saudaranya yang tengah diuji di luar daerah sana. Setelah briefing singkat beberapa menit, maka dimulailah perburuan itu. Mereka dipecah menjadi beberapa kelompok-kelompok kecil yang sudah ditentukan lokasinya. Matahari belumlah tinggi ketika akhirnya, sekelompok aktivis itu bubar teratur menuju ke lokasi yang telah ditentukan.
07.50, Pertigaan Arjosari,
Lalu lalang kendaraan dan hiruk pikuknya lalu lintas tak mengurangi semangat orang-orang ini. “Bismillaahirrahmaanirrahiim”, mereka melarutkan dirinya dalam kerumunan lalu lintas tersebut. Ketika lampu merah menyala, dengan sabar, aktivis itu pun turun ke jalan, satu persatu orang-orang yang berada di sana pun didatanginya. Entah itu pengendara sepeda motor, sopir mikrolet, sopir truk, atau pengendara mobil-mobil pribadi yang kebetulan banyak melintas. Ketika lampu hijau, mereka pun berlari-lari kecil menyusuri pembatas jalan, kembali ke depan. Tak ingin ketinggalan lampu merah selanjutnya.
Matahari semakin meninggi, dan teriknya mulai menyengat. Namun tak satupun dari orang-orang ini,- para aktivis dakwah – yang kulihat berkeluh kesah. Justru sebaliknya, hanya senyum dan canda yang kudengar dari mereka. Lima ratus, seribu, dua ribu, atau bahkan segepok recehan pun mereka terima tanpa lupa mengucapkan terima kasih. Ada pula yang tak sempat memberi, ia hanya berlalu sambil mengacungkan jempolnya tanda simpati. Dan aktivis itu pun hanya bisa tersenyum membalas. Ada pula sebuah mobil merah yang berkali-kali memanggil dengan klaksonnya. Ketika aktivis itu menoleh, selembar lima ribuan (jumlah donasi yang cukup besar untuk di jalanan pada masa itu) tampak melambai dari balik jendelanya. Dan ia pun berlari-lari kecil mengejarnya, mengejar orang-orang yang ingin beramal menunjukkan kepedulian mereka..
Kegiatan hari itu selesai pukul 09.30, karena mereka masih harus kembali ke camp untuk menghitung perolehan hari ini, dan bersiap untuk sholat jumat tentunya. “Yang hampir kebanyakan ngasih tadi justru sopir-sopir angkot, sambil ngitung uang, mereka biasanya ngasih”, salah seorang memulai ceritanya. “Tadi ada pengamen yang lewat di depanku. Dia sempat berhenti sebentar dan tanya, ‘Apa Mas..?’, eh nggak nyangka, dia pun mengambil beberapa recehan dan, Eh, dikasih deh.”, ujar salah seorang dari mereka sambil tertawa. “Kalau aku hampir sama, soal pengamen, justru aku tadi dapat dua kali. Salah satunya, dia sempat dapat uang seribu dari mengamen, eh nggak taunya uang tersebut langsung dikasihkan ke aku!”ujar lainnya tak kalah antusias. Subhanallah, bahkan pengamen pun mampu untuk peduli..!!
Orang-orang ini, para aktivis dakwah kampus. Sungguh terkadang merupakan hal yang sangat unik, ketika mahasiswa-mahasiswa lain dengan enaknya tidur ataupun makan di tempat-tempat mereka, nge-game, ataupun bercanda dan ngerumpi kesana kemari, para aktivis ini justru memilih hal-hal yang - bagi saya - sungguh luar biasa..!! Berdiri, berjalan dan berlari kecil diantara orang-orang yang berhenti di lampu merah. Diantara panasnya terik matahari, deru mesin, keringnya debu dan asap knalpot, semua mereka jalani dengan semangat, tanpa jengah ataupun patah semangat. Bahkan tak jarang, senyum ramah dan canda yang sering saya dapatkan dari mereka.
Sering terlintas pertanyaan dalam hati saya, apa sebenarnya yang menggerakkan pemuda-pemuda ini? Hal apakah yang mampu membakar mereka untuk keluar dari kamar-kamar kost mereka, dan menuju terik matahari jalanan yang menyengat? Dan sebanyak apapun saya merenung, pada akhirnya saya hanya menemukan satu kata sebagai jawaban. KEPEDULIAN. Kepedulian lah yang membuat mereka ikhlas untuk melakukan semuanya. Saya yakin, mereka takkan dibayar sepeserpun karena ini. Mereka bukan saudara-saudara kandung orang-orang di Pangandaran, Kebumen, atau yang lainnya. Bukan pula kerabat, sahabat, rekan kerja atau apa pun..!! Namun ada satu ikatan hati diantara mereka, yang akhirnya mampu menggerakkan semuanya. Yang mampu menggerakkan roda-roda kepedulian dan keikhlasan di dada-dada mereka. Ia tak lain kecuali tali ukhuwah!!, sebuah ikatan persaudaraan, sebuah ikatan yang lebih dari sekedar saudara kandung sekalipun!
Kepedulian pula lah yang mampu merelakan mereka untuk tidak dibayar. Justru yang membuat saya kagum, bahkan untuk ke lokasi tersebut pun, mereka harus membayar biaya angkot mereka sendiri! Kepedulian memang memiliki harganya sendiri, dan saya rasa mereka sangat tahu berapa harga sebuah kepedulian itu bagi mereka. Barangkali seperti yang sering diutarakan salah anggota rohis di SMAku dulu, “Gak opo-opo, Gusti Allah sing mbayari..!!”, (Nggak apa-apa, Allah SWT yang membayar)
Ah, barangkali kita masih perlu belajar banyak pada mereka, sebagaimana pula yang diajarkan oleh sopir angkot, sopir truk, orang-orang yang mengacungkan jempol pada mereka, atau bahkan para pengamen yang mereka temui, tentang harga sebuah kepedulian. Tentang harga sebuah bahasa kebaikan.
Saya yakin, tentulah setiap dari kita masih memiliki sebuah rasa yang disebut kepedulian di dalam hatinya. Masalahnya sekarang adalah, seberapa besar rasa kepedulian itu di hati kita?
Saya rasa anda lebih tahu jawabannya!