Ditulis pada 28 Desember 2006, telah disunting agar sesuai konteks kekinian.
Sebut saja namanya Mas Gaga. Hampir bisa dipastikan orang satu perumahan kenal dengan orang satu ini. Bukan karena prestasinya atau karena ketokohannya, melainkan karena Mas Gaga ini adalah orang yang boleh dibilang “kurang lengkap” pikirannya. Jadilah ia termasuk ”tokoh” di kompleks perumahan kami, karena nyaris tak ada yang tidak mengenalnya. Pekerjaannya setiap hari pun seringkali tidak jelas. Sering mondar-mandir kesana kemari. Bahkan pernah suatu ketika kami tertawa melihat Mas Gaga yang usianya sudah berkepala dua ini berlari sambil berteriak-teriak tak karuan ke lapangan basket. ”Hooi… pesawat…minta dhuwit-nya!!”, begitu teriaknya. Ya, pasalnya sederhana, ada helikopter yang tengah melintas. ’bahkan anak kecil pun rasanya tidak lagi seperti itu’, begitu pikirku.
Untungnya, ia masih punya etika dan kesopanan. Ia tetap memakai baju lengkap dan rapi bahkan, sering senyum-senyum sendiri (meski senyumnya nggak jelas juga), jika diajak ngomong ”terkadang” masih sedikit nyambung, hanya saja ya begitu, kalau istilah teman saya, ”Uteke Nggak bek” (otaknya nggak penuh). Yah, semacam orang Stress gitu.
Namun ada satu hal yang sungguh membuat saya sungguh salut pada orang ini. Meski ia diakui kurang waras oleh kami, orang-orang seperumahan, namun Mas Gaga ini sering saya temukan berada di Masjid. Bukannya mengganggu orang sholat seperti orang gila pada umumnya, namun ya itu, ikut sholat jamaah. Betul! Saya terkadang juga heran dengan orang satu ini.
Terakhir kali, ketika pulang kampung kemarin, saya pun masih menemukan orang ini Sholat berjamaah bersama kami. Meski itu hanya sholat maghrib dan isya sekalipun..!! tambah mengagumkan lagi karena biasanya ia tak pernah pulang antara maghrib dan isya. Ia tetap di dalam masjid ataupun hanya duduk-duduk di teras masjid. Terkadang sambil begitu ia pun membaca Al Quran. Lancar juga lho bacaannya..!! ketika menyimak bacaan orang lain dan salah, ia pun tak segan membetulkan. Hanya ya itu, Mas Gaga ini jika boleh dibilang agak kurang waras. Dan saya pun heran, kenapa untuk masalah-masalah seperti ini ia paham. Bahkan tak jarang adzan Isya’ pun dikumandangkan olehnya. Tapi entah kalau diajak masalah lainnya ia seperti orang bingung (entah kalau memang benar-benar bingung). Intinya satu hal yang sungguh saya kagumi dari orang ini. Ia tetap mau ke Masjid..!! ia tetap sholat!!. Meski saya pun tak habis pikir, bagaimana orang seperti ini akan dihisab nanti. Entahlah itu, urusan antara ia dan Allah SWT.
Ada lagi seorang sosok di Malang. Saya tak terlalu mengenal namanya. Namun yang jelas usianya sudah lebih dari 80an. Ia bukan sosok pemuda seperti Mas Gaga tadi. Rambutnya hampir kesemuanya memutih. Garis-garis keriput di wajahnya menunjukkan usianya yang sudah renta. Penglihatannya pun banyak berkurang. Tak cukup sampai disitu, untuk berjalan ke masjid yang jaraknya sekitar 30meteran, ia masih perlu dibantu dengan sebuah kruk di tangannya. Di Masjid pun ada sebuah tempat khusus untuk orang ini. Di bawah tiang salah satu masjid di shof kedua. Di tempat itu terletak sebuah bantalan kursi. Ya, kakek tua renta ini hanya kuat untuk sholat berjamaah sambil duduk. Tak cukup disini, karena kakek renta ini pun, terkadang masih sempat-sempatnya mengisi pengajian ba’da maghrib. Subhanallah…
Kedua orang ini. Yang pertama adalah orang yang kurang waras, dan yang kedua adalah seorang yang tua renta yang bahkan untuk berjalan pun harus dibantu dengan kruk. Entah kenapa namun setiap merenung tentang mereka berdua, ada satu hal aneh berkecamuk di pikiran saya. Saya masih jauh lebih baik daripada kedua orang ini dalam artian saya masih lebih muda, lebih kuat, dan tentu seharusnya lebih bersemangat dibanding mereka berdua. Saya pun masih mampu berpikir sehat, masih mampu berjalan tegap, bahkan berlari sekalipun. Namun kemudian ada banyak hal yang perlu saya pertanyakan pada diri ini, kenapa terkadang sulit sekali untuk menjadi seperti mereka? Mungkin kita perlu merenung, barangkali hanya niat, kesadaran, dan kemauan kita yang membedakan. Adakalanya kaki-kaki kita sungguh sulit untuk diajak melangkah ke kebaikan, hanya karena terlalu banyak alasan yang ada di diri ini. Padahal semuanya berujung pada kemalasan kita saja.
Ada juga di kampus saya, ada seorang dosen. Pak Ridok namanya. Dosen ini punya kebiasaan yang –bagi saya- cukup unik. Beliau mengajar di kelas saya mulai pukul 2 siang hingga pukul 4 sore. yang artinya, menabrak waktu sholat ashar. Nah, dosen satu ini, ketika waktu Ashar tiba, atau dengan kata lain, Adzan sudah berkumandang, maka beliaupun mem-pending perkuliahan. Dan selama 15 menit kedepan, kami semuanya yang muslim, keluar untuk sholat Ashar berjamaah, kemudian kembali lagi. Subhanallah… andai saja semua dosen seperti itu.
Teringat akan sebuah riwayat, tentang seorang sahabat yang buta, oleh rasulullah beliau tetap disuruh untuk ke masjid selama adzan masih terdengar olehnya. Meski mata saya minus, namun saya toh tetap bisa melihat dengan baik. Sungguh malu jika lantas diri ini sekali saja meninggalkan sholat berjamaah di masjid. Sahabat, tak perlu kita menunggu hingga tua, karena bukanlah salah satu orang yang beruntung di akhirat kelak, adalah mereka yang masa mudanya terpaut oleh masjid?? Ya Allah, berikanlah kekuatan, dan ringankanlah kaki-kaki ini untuk menyambut panggilanMu, di masjid-masjid Mu…….