Tak Melulu Programmer

Refleksi tentang karier anak IT: tak melulu harus jadi programmer, dan apa ya...

Seangkatan saya yang jadi programmer tidak banyak ya, Pak?

Pertanyaan itu membuka obrolan kami malam itu.

Di sebuah kafe. Dia—mantan mahasiswa yang pernah saya ajar—sekarang bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan properti di Bandung.

Saya mencoba mengingat-ingat. Kami menyebut beberapa nama teman seangkatannya dulu, juga kakak dan adik angkatannya yang kira-kira masih ngoding. Mereka teman-temannya yang pernah saya ajar dahulu, saat saya masih “mengabdi” di dunia pendidikan.

Tak urung saya mengiyakan.

Tak hanya angkatannya. Di tiga angkatan “spesial” yang pernah saya ajar, mungkin tak sampai 20% yang bekerja di bidang software.

Atau mungkin angka ini terlalu optimistis?

10% kah?

Entahlah. Saya juga sudah lama tak mendapat kabar dari beberapa teman seangkatannya.

.

Tapi memang—jika mau jujur—teman-teman kuliah saya dulu pun begitu.

Angkatan 2005 silam. Yang masih di jalur kode-mengode juga tidak banyak.

Jelasku, mencoba membesarkan hatinya.

“Mungkin... teman seangkatan saya yang masih ngoding hanya 30%?”

Ah, itu angka yang terlalu optimistis. Mungkin sekarang tinggal segitu teman seangkatan saya yang masih ngoding. Atau setidaknya pekerjaannya masih dekat dengan itu.

Tapi saya maklum. Beberapa teman saya memang berpindah jalur karier. Dari programmer, jadi lecturer, teacher, manager, trainer, teller, business owner.

Bahkan lurah pun ada.

.

Tak masalah, jalan rezeki anak IT kan tak melulu harus jadi programmer, kan?

.

Persentase di teman seangkatan anak muda di depan saya ini pun tak jauh berbeda. Lebih kecil bahkan.

Kebanyakan?

Jadi guru atau karyawan di daerah masing-masing.

Dia dari sebuah PTS kecil nan hangat di Malang. Saya pernah mengajarnya dan teman-temannya dahulu di sana. Yang lulus akhirnya kembali ke daerah masing-masing. Ada yang jadi guru, karyawan swasta, PNS, atau pekerjaan lainnya.

Tapi memang benar.

Sangat sedikit yang jadi programmer.

Seperti anak muda di depan saya ini.

.

Tak masalah, jalan rezeki anak IT kan tak melulu harus jadi programmer, kan?

.

Yang saya tahu, apa yang kita pelajari, dengan sungguh-sungguh, dengan ikhlas, dengan perjuangan, tak akan pernah sia-sia.

Satu hal atau yang lain, pasti akan ada gunanya.

Setidaknya saya ingat beberapa tahun lalu. Saya melihat status seorang mantan mahasiswi saya yang sekarang menjadi ibu rumah tangga di sebuah daerah di kaki Gunung Semeru.

Dan di statusnya itu...

Dia sedang membuka Delphi 7.

Di sebuah komputer yang sepertinya masih menggunakan Windows 7.

Saya tidak tahu dia sedang membuat apa waktu itu.

Tapi dia sedang ngoding.

Dan saya tersenyum.

.

Tak masalah, jalan rezeki anak IT kan tak melulu harus jadi programmer, kan?

.

Tapi apa yang kita pelajari, itulah yang tak pernah benar-benar pergi.

Ia mungkin tidak lagi bekerja sebagai programmer.

Ia mungkin tidak lagi mencari nafkah dari menulis kode.

Tapi sesuatu dari apa yang pernah dipelajarinya masih hidup.

Kadang dalam bentuk yang sederhana.

Kadang dalam bentuk yang tak lagi menjadi profesi.

Tapi tetap hidup.